Ardalan Reswara menatap rumah yang dulu sebelumnya peninggalan orang tuanya, kemudian ia tempati bersama mendiang istri dan kedua anaknya. Sejak direnovasi Reema dan Dante, rumahnya berubah. Menjadi lebih mewah dan besar, tetapi kehampaannya kian terasa saat hanya tinggal ia dan si bungsu yang menempatinya. Terutama bila Adnan sibuk dengan rutinitasnya, jarang di rumah dua puluh empat jam. Dia terbangun dengan d**a yang sesak, terbatuk. Duduk, tangannya coba menjangkau tisu di atas meja tepat samping tempat tidurnya. Gerakannya berhenti saat menatap foto sang istri bersama Reema remaja dan Adnan yang masih anak-anak. Ia hela napas dalam, menghitung keresahan yang semakin menumpuk sejak keadaan rumah tangga putrinya tidak baik-baik saja. Ia tidak bisa tenang meski sang putri tiap hari b

