Malam itu seharusnya berjalan biasa saja. Musik pesta masih mengalun dari ruang utama, tawa dan percakapan para tamu bergema, sementara Reema sudah pamit untuk mencari tempat lebih tenang. Dante tahu dari awal ia sudah agak resah, sebab sejak datang tadi, Mami beberapa kali melontarkan komentar sinis yang hanya bisa dipahami oleh Dante. Ia tahu Reema berusaha menahan diri, tersenyum tipis dan berbaur secukupnya sampai akhirnya pilih menjauh. Dante sudah ingin menyusul, tapi ada saja yang mengenalinya dan menahan Dante dalam percakapan. Namun semakin lama, kekhawatiran Dante tumbuh terutama Reema belum kembali juga. Ia meninggalkan percakapan dengan dua kolega pentingnya, lalu menyusuri tempat sekiranya yang Reema tuju. Hanya ada gemerlap lampu hias yang memantul di permukaan air kolam

