Mereka meletakkan tubuh Kaelen di tepi jurang yang curam. Rafael membacakan doa pendek dalam hati—doa seorang prajurit untuk prajurit lainnya yang telah menyelesaikan tugas terakhir. Lalu, dengan satu dorongan lembut namun pasti, mereka membiarkan tubuh itu jatuh ke dalam pelukan kabut abadi Yungas. Tidak ada suara dentuman. Hanya kesunyian yang dalam dan kekal. Kaelen Thorne telah menghilang. Tanpa nisan, tanpa nama, kembali menjadi hantu seperti cara hidupnya selama ini. Dua jam kemudian, mereka sampai di sebuah desa penambangan kecil di Coroico. Rafael sudah menghubungi koneksi lama lewat jalur radio enkripsi yang ia curi dari unit Maximilian. Di sebuah gudang tua yang berbau bawang busuk dan kotoran hewan, mereka bertemu dengan seorang pria lokal dengan wajah penuh luka parut bernama

