Laura terbangun dengan seluruh tubuhnya terasa pegal. Dia menoleh dan mendapati Marco sudah tidak ada di tempat tidur. Mungkin terdengar kekanak-kanakan, tapi dia sempat berharap Marco masih ada di sisinya. Saat itu juga, pintu terbuka dan Marco muncul di ambang pintu sambil membawa nampan sarapan. “Selamat pagi, sayang.” Senyum yang Laura berikan hampir membuat jantung Marco berhenti berdetak. “Kukira kau sudah berangkat kerja.” “Tidak. Aku akan mengurusmu dulu.” Laura duduk di tepi ranjang, sementara Marco berlutut di lantai. Dengan lembut ia mencoba membuka kedua kaki Laura. “Apa yang akan kau lakukan?” “Melihat keadaanmu. Kemarin kau kesakitan.” “Aku baik-baik saja.” “Buka kakimu, Laura.” “Terlalu terang, aku akan merasa malu.” Marco dengan lembut menariknya ke tepi ranjang.

