Laura menangis dalam pelukan Marco, menangisi hilangnya sosok ibu, menangisi kenangan tentang seorang ibu yang dulu perhatian, yang selama ini dia yakini hanya tegas, tapi menyayanginya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia selalu tau ada sesuatu yang tidak beres, tapi dia mengira itu hanya soal penggelapan pajak atau bahkan membeli barang curian. Hal-hal itu masih bisa dia maafkan, bukan karena dia menganggapnya benar, tapi selama dia masih merasa dicintai, itu sudah cukup. Mungkin itu sikap yang egois, tapi itulah keluarga yang dia miliki, itulah ibu yang dia kenal, darah dari darahnya sendiri, dan perempuan itu telah menyerahkannya kepada orang lain untuk disakiti. Namun dia perlu menatap mata ibunya dan bertanya, agar benar-benar bisa percaya. Laura tidak akan bisa hidup dengan ten

