Laura menghabiskan sisa hari itu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak ada kunci di pintu rumah kaca, tetapi ia mendorong sofa dan menahannya di depan pintu agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk. Seseorang sempat mengetuk pintu rumah kaca, namun ia memilih untuk mengabaikannya. Rasa sepi menggerogotinya, tetapi kehadiran siapa pun tidak akan mampu menghapus kepedihan yang ia rasakan. Ia tahu barangkali ia tidak berhak menghalangi jalan siapa pun di rumah itu, tetapi ia ketakutan—dan Marco telah membentaknya. Saat itu, Laura tidak menunjukkan betapa besar rasa takut yang menguasainya, tetapi dorongan untuk melarikan diri begitu kuat. Bahkan pria bertubuh besar sekalipun bisa terkejut oleh teriakan suaminya; Laura benar-benar ketakutan. Namun bertahun-tahun hidup di bawah ketegasan

