Area parkir terasa panas, dan mereka hanya tidak merasakan terik itu karena pendingin udara menyala. “Siap keluar?” “Siap. Kau bisa tetap dekat denganku?” “Selalu.” Laura seharusnya merasa marah; suaminya baru saja mengaku melakukan pembunuhan. Namun yang ia rasakan justru kelegaan karena tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan akan bertemu para pemerkosanya kapan saja. Ia mulai melupakan semua ajaran gereja yang ia pelajari. Sebuah nyawa seharusnya tidak diambil seperti itu, tetapi pria itu juga telah merenggut sesuatu yang sakral darinya. Laura memutuskan untuk tidak memikirkan semua itu—setidaknya untuk saat ini—dan menikmati perjalanan ke mal. “Marco, di mana dokumen pribadiku yang lain? Kartu kredit dan paspor?” “Paspormu sedang diperbaiki, akan menggunakan nama pernikahanmu.” “

