Dunia yang Hancur

1886 Kata

“Ke Gaza lagi?” tanya Haryo, sang Ayah, tanpa berdiri dari kursinya. Anaya baru saja masuk ke ruang keluarga besar itu. Langit-langit tinggi, lukisan besar bergaya klasik, aroma parfum mahal bercampur wangi kayu. Mulan duduk di sofa panjang dengan kaki bersilang, tatapannya tajam seperti biasa. Tidak ada yang mempersilakan Anaya duduk. Ia tetap berdiri. “Iya, Ayah. Tugas terakhir. Setelah itu aku akan berhenti dan tetap di Indonesia.” Haryo menatapnya lama. Wajahnya dingin, seperti sedang menilai aset, bukan anak. “Kondisi Anelle membaik,” katanya akhirnya. “Dokter di Singapura optimis.” Ada sesuatu yang bergetar di d**a Anaya saat mendengar nama itu. “Syukurlah,” jawabnya pelan. Tulus. Selalu tulus untuk kakaknya. Mulan menyela dengan suara tipis yang menusuk. “Tapi kamu tidak boleh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN