Kediaman rumah Eyang sore itu dipenuhi pelayat sejak siang, tetapi menjelang petang suasananya justru terasa semakin berat. Tenda putih masih berdiri di halaman depan, kursi-kursi plastik tersusun rapi meski beberapa sudah kosong, dan karangan bunga berjajar di dekat pagar dengan pita hitam yang bergerak pelan tertiup angin. Aroma bunga duka, lilin, dan kopi dari dapur bercampur menjadi satu. Di ruang tengah, beberapa kerabat masih duduk dengan rosario di tangan, berbicara pelan seolah takut suara mereka mengganggu duka yang belum selesai. Salib besar tetap diletakkan di sisi ruangan, dan bekas tempat peti Eyang Hadi tadi masih terasa kosong meski tubuhnya sudah dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Rumah itu ramai, tetapi di mata Marsha, ada ruang yang hilang begitu besar sampai semu

