Marsha terbangun duluan pagi itu di villa Bali, ketika cahaya matahari merayap pelan lewat celah tirai tipis, menyentuh lantai kayu dan ujung ranjang. Udara pagi hangat, asin oleh laut. Ia bergeser sedikit, lalu menoleh ke samping. Kalandra masih terlelap. Wajah Laksamana itu terlihat berbeda ketika tidur, tidak ada garis tegas komando, tidak ada ketegangan yang biasanya bertengger di rahangnya. Alisnya santai, napasnya teratur, satu tangan tergeletak di atas selimut, urat-urat di punggung tangannya tetap menonjol. Rambutnya sedikit berantakan, membuatnya terlihat… manusiawi. Tampan dengan cara yang sunyi dan intim, bukan gagah yang menakutkan seperti saat ia berdiri di hadapan pasukan. Marsha menatapnya lama. Semalam mereka kelelahan, bercinta dengan pelan tapi dalam, tanpa tergesa, b

