Dan akhirnya, tanpa bisa lagi ditutupi, Gabriel mendengar konfirmasilangsung dari Mbak Ani. Dapur yang tadi hangat dengan aroma adonan cookies tiba-tiba terasa sunyi. Adonan yang setengah jadi dibiarkan begitu saja di atas meja, sendok masih tergeletak, oven masih menyala, namun tidak ada yang peduli lagi pada masakan itu. Gabriel menarik kursi dan duduk perlahan, tubuhnya terasa berat, sementara Mbak Ani berdiri di depannya, ragu beberapa detik sebelum akhirnya ikut duduk di kursi seberang. “Sejak kapan?” suara Gabriel rendah, nyaris tidak terdengar. Mbak Ani menelan pelan. “Sejak… lusa kemarin, Pak.” Gabriel menatapnya. “Waktu Ibu pendarahan,” lanjut Mbak Ani hati-hati. “Kami langsung bawa ke klinik di bawah apartemen. Dokter bilang… itu kehamilan muda, Pak. Masih sangat rentan.” G

