“Anaya? Kenapa melamun? Apa ada masalah?” Suara Gabriel memecah keheningan kamar malam itu. Anaya yang berdiri di dekat meja rias mengenakan dress rumah warna lembut, tersentak kecil. Ia menoleh cepat dan segera memasang senyum yang sudah terlalu sering ia gunakan sebagai tameng. “Tidak ada,” jawabnya ringan. “Aku cuma capek sedikit, tapi seru bangettttttt. Suka jalan-jalan sama Mama.” “Kalau Mama bikin kamu lelah, nanti saya bilang supaya jangan terlalu seringa jak kamu.” “Apaan ih, gak usah, Mas! Aku suka tau, emang capek aja karena aku kayaknya bentar lagi datang bulan. Biasa lah hormon.” Gabriel melepas jasnya, menggantungnya rapi di kursi. Tatapannya tetap meneliti wajah istrinya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Ish, ngapain liatin aku kayak gitu? Dibilangin gak ada ap

