“Mas… kamu marah ‘kah?” tanya Anaya pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara air yang masih mengalir dari shower. Anaya berdiri di sisi lain ruang mandi yang luas itu, tubuhnya terasa kaku karena suasana yang mendadak berubah. Beberapa menit yang lalu semuanya terasa hangat, bahkan penuh gairah, tetapi sekarang Gabriel justru berdiri membelakanginya di bawah pancuran air, bahunya tegang dan diam tanpa menjawab apa pun. Gabriel mengusap wajahnya dengan kedua tangan sebelum akhirnya mematikan air. Ia tidak langsung menoleh. Punggungnya tetap membelakangi Anaya seolah sedang mencoba menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam kepalanya. Pria itu menggeleng pelan. “Enggak,” jawabnya singkat. Namun nada suaranya terdengar datar. Gabriel meraih handuk yang tergantung di dekatnya, melili

