Anaya tidak pernah benar-benar terbiasa dengan rasa sepi di rumah itu. Bukan karena rumahnya terlalu besar, atau karena suasananya terlalu hening melainkan karena sejak beberapa waktu terakhir, keberadaan Gabriel di dalam hidupnya telah menjadi sesuatu yang… menenangkan. Jadi ketika sore mulai merambat menuju malam, dan ia tahu suaminya belum pulang, ia memilih mengisi waktu dengan sesuatu yang sederhana. Memasak. Di dapur, aroma bawang putih yang ditumis perlahan memenuhi udara. Anaya berdiri di depan kompor dengan celemek yang sedikit terlalu besar untuk tubuhnya, sementara Mbak Ani di sampingnya dengan sabar mengawasi setiap gerakannya. “Bukan begitu, Bu, hehehehe,” ujar Mbak Ani lembut. “Kalau mau tumisnya harum, apinya jangan terlalu kecil, nanti malah keluar air.” Anaya mengerutk

