“Fir ...” “Maaf, Om.” “Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah.” “Fira belum bisa jawab pertanyaan Om Arsya.” “Pikirkan dulu. Aku akan menunggu tapi jangan lama-lama.” Itu lah, percakapan antara aku dan Om Arsya saat perjalanan pulang setelah seharian keliling mall. Bukannya aku menolaknya melainkan bingung cara menjawabnya. Om Arsya pastinya tidak tahu jika aku sudah jatuh cinta padanya sejak SMP. Entah hanya cinta monyet atau betulan aku tak tahu. Namun, rasa yang telah aku kubur dalam-dalam kini muncul kembali. “Kak ...” “Masuk, Ma. Sini,” aku melambaikan tangan pada Mama. Tumben beliau minta ijin untuk masuk ke kamar ku. Mama berjalan ke arahku dengan membawa segelas s**u. Kegiatan yang selalu dilakukan nya setiap malam. Beliau akan memastikan para putrinya minum s**u sebelum tidu

