“Sayang ...” “Iya, Mas. Mual lagi?” “Enggak, Yang. Sini aku mau di peluk.” “Sebentar ya. Aku lagi balas email dari Nenek.” “Sayang ...” rengek Arsya. Sejak tadi dia tak fokus bekerja dengan alasan tak bisa berjauhan dari sang istri. Padahal Safira ikut ke kantor dan kini berada di ruangannya. Daripada bayi besarnya menangis, Fira memilih mengalah. Pekerjaan yang harus segera diselesaikannya tertunda lagi. Arsya hanya ingin di peluk sambil mengendus wangi parfum yang menempel di baju istrinya. Rasa mual dan pusingnya akan menghilang jika berada dalam pelukan sang istri. Itu yang membuatnya tak mau berjauhan dengan Safira. “Nanti siang mau makan dimana, Mas?” “Aku pengen restoran padang.” “Yakin? Kalau tiba-tiba mual gimana?” “Makan di mobil saja tapi parkir di depan restorannya.”

