Esoknya, matahari baru naik separuh ketika Kamelia sudah bersiap-siap di dapur rumah besar keluarga Abimana. Aroma ayam panggang bercampur dengan wangi tumisan sayuran memenuhi udara. Ia mengenakan apron sederhana, rambutnya disanggul rapi, wajahnya penuh konsentrasi. Sudah lama sekali ia tidak turun tangan menyiapkan makanan sendiri—selama ini urusan dapur diserahkan pada para asisten rumah tangga. Namun hari itu berbeda. Hari itu, ia ingin menyiapkan sendiri sesuatu yang spesial. “Aku ingin dia tahu ... aku masih ibunya,” bisik Kamelia pada dirinya sendiri, jemarinya gemetar sedikit saat menutup kotak bekal kayu berlapis kain. Ia menyiapkan dua kotak: satu berisi lauk dan nasi, satu lagi berisi buah potong dan puding favorit Jafran sewaktu kecil. Ingatan itu tiba-tiba menyeruak—Jafran

