Matahari pagi tergantung rendah di balik awan mendung yang bergerak pelan, menyisakan cahaya keemasan yang menyelip di celah-celah bangunan di pinggiran kota. Udara segar membawa aroma tanah basah dan kayu yang baru dipotong, memecah kesunyian jalanan yang jarang dilalui kendaraan. Ferdy berdiri di depan sebuah bangunan kecil, menatapnya lama. Bangunan itu tidak megah, jauh dari desain modern yang biasanya dianggap mewah, namun bagi Ferdy, setiap sudutnya mengandung arti: sebuah rumah yang benar-benar dibangun dengan tangan dan keringatnya sendiri. Di pagar depan terpaku papan kayu sederhana bertuliskan dengan cat hitam tebal: RUMAH KEDUA – Tempat Berproses & Berdaya Ferdy tersenyum pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara pagi yang dingin tapi menyegarkan. Hatinya bergetar

