Beberapa jam setelah Bian terbang pulang ke Jakarta, apartemen Nadira terasa lebih sepi dari biasanya. Balkon yang biasanya diisi suara tawa dan obrolan ringan kini hanya dipenuhi suara angin musim panas yang pelan menerpa jemuran. Gelas teh di meja ruang tamu sudah setengah dingin, tapi Nadira belum menyentuhnya lagi. Ia duduk di sofa, memeluk bantal kecil. Ponselnya tergeletak di meja, layar menyala dengan perbedaan waktu: Edinburgh dan Jakarta. Di sana sekarang sudah menjelang malam. Nadira menarik napas pelan, lalu menekan tombol video call dengan nama 'Papa' Nada sambung terdengar beberapa kali. Lalu wajah Papa Ary muncul di layar, disusul Mama Nenny yang merapat dari samping. "Gimana kabarnya, Nad? Sehat-sehat aja kan?" tanya Papa Ary sambil tersenyum, meski kerutan di sekitar ma

