Reza dan Maya meninggalkan rumah Bian dan Nadira menjelang sore. Langit belum gelap, tapi cahaya matahari sudah mulai lembut. Reza berjalan di samping Maya tanpa terburu - buru, seperti dua orang yang sama - sama memilih langkah pelan. "Kita ke mal?" tanya Maya sambil membuka pintu mobil. Reza menggeleng. "Jangan, aku lagi nggak pengin ramai." Maya tersenyum kecil. "Aku juga." Reza menyalakan mesin mobil Maya. "Ada kafe kecil dekat Kemang. Nggak terlalu kelihatan dari jalan." "Itu yang kamu bilang kopinya pahit tapi enak?" "Iya," jawab Reza. "Dan kursinya nggak bikin kita pengin cepat - cepat pergi." Maya tertawa pelan. "Aku ikut aja, aku kurang referensi kalau soal cafe atau restoran. Kamu pasti lebih ngerti." "Hello ... Aku udah lama loh nggak di Jakarta, kamu malah udah tinggal

