Pukul dua siang Nadira sudah tiba di London. Udara musim semi menyambutnya dengan angin lembut dan langit cerah yang nyaris tanpa awan. Sinar matahari menimpa kaca terminal kedatangan di bandara Heathrow, membuat bayangan orang berlalu-lalang tampak lebih hangat dari biasanya. Ia segera mengabarkan Bian, sedangkan Bian kini sedang dalam perjalanan menuju bandara Schiphol untuk kembali ke Indonesia. Dua hari yang menyenangkan selama di Amsterdam itu masih terasa menempel di seluruh tubuhnya, seakan-akan kota itu belum benar-benar melepaskannya. Tidak pernah terbersit dalam benaknya kalau perjalanan singkat itu akan berubah menjadi sesuatu yang sangat berarti. Dia pikir mereka akan bertemu seperti setahun lalu di Bali, sekadar pertemuan singkat saat Bian terbang ke Bali, banyak ngobrol di w

