Kaluna mendapatkan perintah dari kakek mertuanya. Pagi tadi, melalui panggilan telepon yang dingin dan formal, Monsieur Lucien Montegard sendiri memberi instruksi, bawa Vita pulang ke Indonesia, hentikan seluruh urusan pribadi dengannya, dan jangan campur tangan dalam urusan keluarga besar lagi. Nada suaranya datar, tapi setiap kata terasa seperti cambuk. “Cukup satu kali kamu mencampuri urusan Montegard, Kaluna. Aku tak akan memberi kesempatan kedua pada temanmu itu,” katanya dengan tajam dan menusuk. Kini, sore mulai turun di atas kota Paris. Hujan sudah berhenti, tapi langit masih berwarna kelabu. Di kamar hotel mewah tempat mereka menginap, Kaluna berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang hitam berkilau. Ia mengenakan gaun berwarna abu muda, lembut dan elegan, tapi matanya men

