Teror Dimulai

1233 Kata

Di pagi yang masih dini, ketika suara burung baru mulai mengisi langit Jogja, Jiva sudah duduk di ruang kerja dengan laptop terbuka dan ekspresi penuh kecurigaan. Mug kopinya belum tersentuh. Alih-alih sibuk dengan pekerjaan seperti biasa, pagi ini pikirannya hanya dipenuhi satu nama: Raina. Tak butuh waktu lama sampai Ivan datang mengetuk pintu, dengan ekspresi penasaran yang sudah disiapkan sejak ditelepon subuh tadi. “Mas Jiva, ada yang darurat?” “Masuk. Tutup pintunya.” Jiva menatap layar laptopnya tajam. Ivan menurut, duduk di seberang. Jiva menyematkan sepucuk file ke arah Ivan. “Aku butuh kamu cari tahu semua tentang ini. Proyek sosial milik Raina.” Ivan memicingkan mata, membaca cepat brosur seminar yang disodorkan bosnya itu. “Raina—mantan?” Jiva melotot. “Nggak usah pakai e

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN