Hujan turun deras membasahi aspal jalanan ketika Ivan dan anak buahnya tiba di apartemen Rania. Langkah-langkah cepat mereka menggema di lorong sempit, dengan Ivan berada paling depan, wajahnya penuh ketegangan. Kemeja yang dikenakannya sudah basah sebagian, namun dia tak peduli. “Cepat! Ke kamar!” serunya pada dua orang agen di belakangnya. Pintu apartemen Rania terbuka setengah. Satu engselnya patah, menandakan adanya kekerasan. Ivan menahan napas sejenak, lalu mendorong pintu sepenuhnya dan melangkah masuk. Aroma khas debu, parfum wanita, dan sesuatu yang terbakar samar menyergap inderanya. “Bersihkan ruangan, cari bukti,” perintahnya cepat. Mereka menyebar. Ivan sendiri langsung ke bagian dalam. Matanya menyapu setiap inci ruangan—meja yang terbalik, kaca jendela yang pecah, dan be

