Pulang yang Tak Pernah Kembali

988 Kata

Mendung menggantung di langit Jogja pagi ini. Seakan tahu bahwa ada duka yang menunggu untuk dipeluk dalam hening. Pukul tujuh pagi, Salwa menerima telepon dari nomor yang tak dikenal. Begitu suara di seberang menyebut nama Gus Zeehan, detak jantungnya langsung melonjak. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un—Mbak Salwa, Gus Zeehan telah berpulang, dini hari tadi. Beliau tenang. Kami hanya ingin menyampaikan, sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman keluarga di Magelang.” Dunia sejenak berhenti berputar. Salwa terduduk di pinggir ranjang, menatap kosong ke arah si kembar yang sedang asyik menggambar di lantai. Nafasnya tercekat. Bukan karena cinta yang tersisa—tidak lagi. Tapi karena satu bagian dari masa lalu telah pergi, selamanya. Tanpa pamit. Tanpa benar-benar berpamitan pada anak-a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN