Zoya memarkirkan mobilnya di belakang beberapa mobil yang berjajar. Masih terdengar suara makian dengan erangan rasa sakit dari para anak buah yang saling menyerang. Ada juga yang menyembunyikan diri karena takut akan tewas seperti para temannya yang lain. Tubuh Zoya gemetar hebat melihat lautan darah di bawah tubuh yang bergelimpangan. Ia sampai menutup mulut melihat luka-luka yang terlihat sangat mengerikan dari para manusia itu. Seolah nyawa mereka tak ada artinya hingga dibantai dengan begitu kejam. Meski langkah kaki Zoya goyah ia terus melangkahkan kakinya, melewati kontainer besar yang jumlahnya tidak sedikit itu. Sekelebat bayangan ia melihat seseorang yang tengah menyeret sesuatu. Mata Zoya terbelalak saat melihat orang yang diseret merupakan Ayahnya sendiri. "Ayah!" Zoya be

