Matthias berlalu meninggalkan rumah dengan gemuruh emosi yang mencuat. Sebelumnya ia sempat melihat Adiknya Xander pergi ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras sebagai luapan emosi yang sama. Sudah tahu tentang bagaimana rumitnya perasaan antara kedua orang tuanya tetap saja ada ruang kecewa di dalam hati setelah keputusan yang diambil oleh Papanya. Mereka mengerti, tapi juga sakit meski tak berdarah. Tidak ada waktu untuk membenci karena semua itu tak akan merubah keadaan saat ini dan nanti. Cukup diam dan menikmati lukanya hingga nantinya akan terbiasa. Terbiasa melihat kedua orang tuanya tak akan sama-sama lagi. Matthias pergi ke kantor, meluapkan masalah rumit yang membelenggu hidupnya dengan pekerjaan. Berharap bisa lupa akan luka menganga yang baru saja timbul. Namun, ke

