Labirin Kebencian di Ujung Takdir

1722 Kata

​Hujan badai yang mengamuk di langit Karta tidak lagi sekadar fenomena alam; ia adalah tirai air yang memisahkan dua jiwa dengan cara yang paling brutal. Detik itu juga, tepat setelah bunyi klek yang final dari kunci pintu belakang toko bunga bergema—bunyi yang terasa seperti vonis mati bagi Virian Pratama—dunia seolah berhenti berputar. Virian masih bersimpuh. Lututnya yang selama ini hanya ditekuk di depan kemegahan meja direksi, kini terkubur dalam aspal hitam yang becek, dingin, dan kotor. Air hujan menderas, menghantam punggungnya, meresap masuk ke balik kerah kemeja sutra putihnya yang kini melekat seperti kain kafan di kulitnya yang mulai membiru karena kedinginan. ​Tangannya yang gemetar masih menempel pada permukaan kayu pintu yang kasar dan mulai melapuk dimakan usia. Telapak ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN