Retak yang Tak Terlihat

1224 Kata

Malam itu penthouse terasa lebih dingin daripada biasanya, meskipun pendingin ruangan sudah dimatikan sejak sore. Virian duduk di tepi sofa panjang berlapis kulit hitam, siku bertumpu di lutut, kedua tangan menutupi wajah. Mawar putih kering yang biasa ia pegang-putar kini tergeletak begitu saja di meja kaca di depannya—seperti benda mati yang sudah kehilangan makna. Zen berdiri agak jauh di dekat jendela kaca besar, memandang lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Biasanya ia akan melempar lelucon konyol untuk mencairkan suasana, tapi malam ini mulutnya terasa terkunci. Ia tahu batas lelucon sudah terlampaui sejak tadi sore. “Pak Vir…” Zen akhirnya membuka suara, suaranya pelan, hampir takut. “Berita sudah mulai beredar. Bukan headline utama, tapi… cukup banyak portal gosip

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN