“Dia ini janda anak satu, Ma. Anaknya sudah besar. Sudah 9 tahun. Memangnya bang Rido mau?" Semua mata langsung tertuju ke arah sosok yang baru saja bicara panjang lebar. Sadar sudah kelepasan bicara, Dewa menelan saliva lalu berdehem. "Maaf, maksudku ... um--" "Tidak apa-apa." Runa tersenyum ketika semua mata kini tertuju padanya. "Terima kasih banyak sudah peduli pada saya. Saya sendiri belum berpikir untuk memiliki hubungan dengan lawan jenis. Saya masih fokus dengan karir dan anak saya." Runa tersenyum sekali lagi setelah berbicara panjang lebar. Apakah dia sakit hati mendengat perkataan Dewa? Tidak. Sama sekali Runa tidak sakit hati, karena apa yang Dewa katakan itu masuk akal. Memangnya siapa yang mau dengan janda beranak seperti dirinya, yang tidak memiliki apa-apa. Dengan tida

