Dewa menatap kesal seorang anak yang kini sudah duduk bersama mama dan kakaknya. Anak itu nampak lahap memakan roti yang dihidangkan di atas meja. Pria itu menahan decakan, melihat kedua wanita dalam hidupnya tertawa memperhatikan Lingga. Apa coba bagusnya anak itu? Tidak sopan mengatai dirinya galak di depan banyak orang. Padahal dia tidak pernah marah-marah pada anak itu. “Jadi, kalau om tertarik untuk investasi nanti kabari saja.” Dewa melirik ke samping. Papanya sedang berbincang dengan kakak Jingga. Jingga sendiri sedang mencoba gaun pengantinnya, dibantu sang mama dan juga … Runa. Semua orang di dalam ruangan itu sibuk berbincang kecuali dirinya. Dewa tidak merasa ingin terlibat perbincangan ayah dan calon kakak iparnya, apalagi obrolan ala anak-anak di sofa panjang yang lain.

