Aku berjalan menuruni tangga dengan kepala tertunduk, bersiap untuk menerima teguran keras karena telah melanggar perintahnya. "Nenek, aku—" Namun, saat aku sampai di hadapannya, Nenek Marine justru menatapku dengan raut wajah yang sepenuhnya tenang—seolah-olah teriakan histeris Violin beberapa menit lalu hanyalah angin lalu yang tidak berarti. "Ayo, bersiap-siaplah." "K-Kita mau kemana?" "Kita akan ke butik berlian langganan Nenek. Kamu harus memilih perhiasan yang akan kamu kenakan di pesta nanti. Pernikahan keluarga Atmaja tidak boleh terlihat biasa saja." "Butik berlian?" Aku menatap Nenek Marine bingung, bukankah seharusnya Nenek menjelaskan dulu apa yang tadi terjadi. Dan harusnya Nenek juga memarahiku karna tadi malah mengintip. "Kenapa kamu malah bengong? Kamu pakai jake

