Di tempat persembunyiannya yang mulai terasa seperti sangkar, Violin berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Ponsel di genggamannya terasa panas. Berkali-kali ia menghubungi nomor Alisa, namun hanya suara operator yang menjawab. Perasaannya tidak enak, instingnya mengatakan sesuatu yang besar telah terjadi. Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor Haris—pria dari masa lalunya yang kini menjadi pion penghancur bagi rencananya sendiri. "Halo! Haris! Ke mana saja kamu, b******n?!" maki Violin begitu sambungan telepon terhubung. Suaranya melengking tajam, penuh dengan kepanikan yang ditutupi amarah. Di seberang sana, Haris terdengar tenang, bahkan ada nada ejekan dalam suaranya. Haris kini berada di bawah pengawasan ketat orang-orang Kalandra, menunggu waktu untuk memberikan kesaks

