Sore itu, rumah Atmaja penuh tawa. Cahaya jingga matahari sore menyusup lewat celah pohon di taman belakang. Alea duduk di bangku kayu sambil menyesap teh kamomil hangatnya. Pemandangan di depannya masih terasa seperti mimpi. Di atas rumput hijau yang rapi, Kalandra merangkak pelan. Lutut dan tangannya menahan beban. Di punggungnya, Baby El duduk gagah sambil tertawa riang. Tangan kecilnya mencengkeram kerah kaus ayahnya seperti pegangan tali kekang. “Ayo, Pa! Pa! Brrr!” seru El dengan suara cadel tapi keras. Kalandra mengembus napas panjang. Peluh menetes di pelipisnya, tapi senyumnya lebar sekali. “Iya, Sayang. Kuda Papa lagi isi bensin dulu. Kamu berat sekali sekarang, El. Makan apa tadi siang?” Alea tertawa kecil. “Dia habiskan bubur hati ayam buatan Oma, Mas. Tenaganya langsung du

