Keheningan di kamar hotel ini mendadak terasa mencekik. Kalandra masih duduk membelakangiku di tepi ranjang, bahu kokohnya tampak tegang, dan sisa wiski di gelasnya bergoyang pelan. Pengakuanku tentang konfrontasi Ibu Marine dan Violin di Jakarta seolah membekukan udara di antara kami. Aku bangkit perlahan, mengabaikan rasa lemas di kakiku, lalu beringsut mendekati punggungnya. Aku menyandarkan daguku di bahunya, mencoba mencari kehangatan yang tiba-tiba terasa mendingin. "Mas...," bisikku, tanganku gemetar menyentuh lengannya. "Waktu itu, aku dengar sendiri Ibu Marine mengusir Violin dari rumah. Ibu bilang... Alisa bukan darah daging Atmaja. Ibu menyebut ada pria lain... pria yang hubungannya dengan Violin adalah sebuah 'dosa yang tak terampuni'. Apa Mas tahu siapa pria itu?" Kalandra

