Sekitar satu jam kemudian, kami baru benar-benar bisa menampakkan diri di ruang makan. Aku berjalan dengan langkah kaku, berusaha menutupi rona merah di wajahku, sementara Kalandra berjalan di sampingku dengan wajah yang tampak sangat segar dan puas, meskipun kemejanya sudah diganti dengan yang baru. Ibu Marine sedang duduk tenang sambil menyesap tehnya. Beliau menurunkan cangkir porselennya, lalu melirik jam dinding besar di ruangan itu sebelum menatap kami berdua dengan senyum penuh arti yang membuatku ingin menghilang saat itu juga. "Wah, mawar putihnya sepertinya sangat ampuh ya, Kalandra?" ledek Ibu Marine dengan nada santai namun tajam. "Ibu kira kalian pingsan di atas karena kelelahan perjalanan, ternyata energinya masih meluap-luap sampai sarapan pun harus tertunda satu jam." W

