"Pakai gaunmu, Alea. Ibuku menunggu calon menantunya keluar," bisiknya santai, seolah dia tidak baru saja melakukan hal segila itu. Aku hanya bisa terengah-engah, menatap pantulan diriku yang berantakan di cermin. ** Aku terengah-engah, dadaku naik turun dengan liar sementara tubuhku masih bergetar hebat. Kalandra tetap tenang, dia menarik beberapa lembar tisu tebal yang tersedia di meja rias ruang ganti itu. "Bersihkan dirimu, Sayang. Jangan sampai ada aroma yang tertinggal," bisiknya sambil menyerahkan sisa tisu padaku. "Kamu gila, Om." Aku segera menyeka sisa-sisa pelepasanku dengan cepat, membuang tisunya ke dalam tempat sampah kecil yang tersembunyi di bawah meja rias, lalu menutupinya dengan tumpukan tisu bersih lain agar tidak terlihat. Aku melihat ke cermin, untungnya Kal

