Pagi di Paris menyapa dengan cahaya keemasan yang menembus celah gorden, menciptakan suasana yang begitu damai di dalam kamar. Aku masih meringkuk di dalam dekapan Kalandra, merasakan kulit kami yang bersentuhan di balik selimut sutra. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat ponsel Kalandra di atas nakas bergetar hebat tanpa henti. Kalandra mengerang rendah, tangannya yang kekar meraba nakas dan meraih benda itu. Ia sempat melirik layarnya sebelum menghela napas kasar, tampak sangat terganggu karena momen intim kami harus terusik. "Mas ... siapa?" tanyaku dengan suara serak, mengusap mataku yang masih terasa berat. "Alisa," jawab Kalandra singkat, suaranya terdengar dingin dan malas. Ia hendak mematikan ponselnya, namun panggilan itu masuk kembali. Karena tidak ingin terus digan

