Aku menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungku pada bantal-bantal empuk yang masih berantakan. Tubuhku terasa sangat pegal, ada rasa nyeri yang samar namun manis di pangkal pahaku—sisa-sisa perlakuan Kalandra yang benar-benar tanpa ampun semalam hingga tadi pagi. Pria itu baru saja pamit keluar sebentar untuk mengurus beberapa hal dengan manajer hotel, meninggalkan aku sendiri di dalam kamar mewah ini. Kalandra seolah punya cadangan energi yang tak terbatas. Dia benar-benar jantan, sangat dominan, dan setiap sentuhannya membuatku merasa tidak punya daya untuk melawan. Aku merasa amat penuh—penuh dengan cintanya, penuh dengan kehadirannya, dan ya... penuh dengan kebahagiaan yang meluap-luap "Aaaah, Kalandra!" aku membenamkan wajahku di bantal, berguling-guling di atas kas

