22. Tiba-tiba Dingin

1033 Kata

“Sudah selesai? Jika sudah, giliran aku yang bicara,” ucap Dewangga. Dia meraih pinggang Aruntala, dan mengangkat tubuhnya hingga terduduk di atas meja kerjanya. Aruntala terpekik tertahan saat kedua kakinya dipaksa terbuka, memberikan ruang bagi Dewangga untuk melangkah masuk dan berdiri tepat di antara kedua paha wanita itu. “Mengapa kau tidak kembali malam itu?” suara Dewangga rendah, nyaris seperti bisikan di depan wajah Aruntala. “Aku memerintahkanmu, dan kau sengaja memilih untuk menghindar?” Aruntala meneguk ludah, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. “Karena ... itu salah, Tuan. Apa yang kita lakukan malam itu, itu sudah terlalu jauh. Kita terbawa suasana karena alkohol dan situasi. Kita seharusnya tidak melakukan itu. Aku hanya ibu s**u untuk anakmu, dan kau... kau atasan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN