48. Hari yang Ditunggu-Tunggu

1872 Kata

Pagi itu dimulai dengan suasana tenang seperti biasa, seolah-olah ketegangan semalam hanyalah mimpi buruk yang menguap bersama embun yang entah kemana. Dewangga berhasil kembali ke kamarnya sebelum matahari terbit, memastikan rahasia kecil mereka tetap aman di balik pintu kamar Aruntala. ​Di meja makan, Herra sudah tampil sempurna. Tidak ada sisa-sisa kemarahan dari kejadian semalam di wajahnya. Ia mengenakan pakaian rumah yang elegan namun terlihat santai, duduk di dekat kursi Dewangga dengan senyum yang dipasang semanis mungkin. ​“Selamat pagi, Sayang,” sapa Herra dengan suara ceria saat Dewangga turun. “Aku sudah meminta koki membuatkan menu sarapan sehat untukmu. Kau butuh banyak energi untuk di kantor hari ini, bukan?” ​Dewangga hanya bergumam tipis, menarik kursi dan mulai menyan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN