24. Sebuah Ciuman, Hadiah Tanda Kelulusan?

1155 Kata

Di tengah keheningan yang memekakkan telinga, hanya alunan piano yang masih samar terdengar, Aruntala merasakan tarikan magnetik yang tak tertahankan. Matanya terpaku pada bibir Dewangga yang hanya berjarak beberapa inci. Otaknya memerintahkan untuk menjauh, untuk lari, tapi tubuhnya membangkang, membeku di tempat, penasaran akan sentuhan yang belum pernah ia rasakan dengan kesadaran penuh. ​Dewangga tidak banyak bicara. Tatapannya sudah lebih dari cukup. Ia menunduk perlahan, memberi Aruntala jeda terakhir untuk menolak namun ... jeda itu tidak Aruntala ambil, seolah memberikan kode bisu pada Dewangga untuk melangkah lebih jauh. ​Tak ingin membuang lebih banyak waktu, Dewangga menyentuh bibir Aruntala dengan kelembutan yang mengejutkan, sebuah kecupan ringan yang terasa seperti permoho

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN