126 || Jilid 2: Maaf ....

1380 Kata

Debar di d**a Bumi heboh sekali. Bayangkan saja enam bulan dia belum pernah ada sedekat ini dengan Buana semenjak dipulangkannya sang istri ke kediaman orang tua. Sementara saat ini, bersisian, Bumi sampai gatal ingin menjulurkan tangan, meraih jemari Buana, menggenggam tangannya, merangkul pundaknya, menangkup wajah cantik itu, lalu memandangnya sepuas yang Bumi mau, dan bonus ... mengusap perut buncitnya. Ah ... semua bayangan itu menari-nari cantik di kepala Bumi dan membisik berisik sehingga perasaannya membuncah. Tepat saat tak sengaja ujung kelingking Bumi bersentuh tangan dengan jemari Buana, di hatinya seperti ada ledakan dahsyat yang lalu menyetrum seluruh tubuh melalui desir darahnya. Berpandangan, lagi. "Bagus, Na," bisik Bumi. Bicaranya sangat pelan. Dia menunjuk apa yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN