Alea sama sekali tidak bisa tenang. Di pikirannya hanya terus terbayang ucapan Diandra yang mengatakan bahwa Jeje menyukainya. Apa itu benar? Tapi kalau itu benar, kenapa Jeje sangat tega padanya. "Nyebelin banget! Kenapa gue terus kepikiran Mas Jeje, sih!" rungut Lea dengan mata segar seolah belum mengantuk sama sekali. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, biasanya Lea sudah terlelap. Dia ingin menenangkan diri, dia berpikir kalau melihat Jeje mungkin saja dia akan bertindak frontal. Tapi sekarang, di rumah Jihan, bukan ketenangan yang ia dapatkan. Tapi sebaliknya, alih-alih ingin menenangkan diri, justru ia malah terus kepikiran Jeje. "Gue nggak percaya kata-kata Dian, tapi mungkin aja itu benar?" Alea mulai overthinking lagi. "Diandra juga cantik, sikap Jeje juga berle

