Bab 170: Uncle Daffa

1267 Kata

Setelah selesai dengan tesnya, Evan diberi kesempatan untuk bermain-main sendiri di sudut ruangan yang dilengkapi permainan anak bersama Ayra, sementara kedua orang tuanya berkonsultasi dengan psikolognya. Tak lama, ia terlihat bosan. Semua mainan itu terasa terlalu kekanak-kanakan untuknya. Evan butuh yang lebih menantang. Yang memaksa neuron-neuron sarafnya berpikir keras dan membuat koneksi-koneksi baru di otaknya. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian. Ia tak mengerti kenapa kedua orang tuanya merasa perlu membawanya ke sini. Ah, tidak! Bukan kedua orang tuanya, tapi ayahnya. Ia menatap lekat laki-laki dewasa yang serupa dengannya itu. Evan akhirnya hanya memperhatikan Ayra yang bermain ditemani asisten psikolog itu. Adiknya itu terlihat senang dengan beberapa mainan yang diberi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN