“Kita langsung pulang?” tanya Belle. “Ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi lebih dulu?” balas Gyan. “Oh. Tidak ada.” “Rumah kita akan ramai di lusa.” “Pasti menyenangkan.” “Tentu, love.” Belle mengangguk. Ia meletakkan Léon di baby carseat, memastikan kenyamanan. Ia mengecup kening mungil putranya, lalu menghidu wangi di kepala yang begitu candu. “ Bibir Gyan melengkung manis. “Kalau terlalu dingin, bilang, love,” ujarnya lagi. Suhu kabin yang ia maksud. Belle menggeleng. “Tidak. Cukup.” Mobil melaju meninggalkan klinik saat petang hampir pamit. Paris masih dipeluk musim dingin, namun angin tak bertiup kencang saat ini. Salju yang sempat turun pagi tadi menyisakan jejak lembap di tepi jalan dan trotoar. Kota pun mulai tampak lebih sunyi. Belle duduk di kursi belakang, Léon te

