“Mas, ini nggak mungkin. Aku serius. Ini nggak mungkin. Ini pasti salah baca.” Abimana mendekat dan meraih bahunya dengan tenang. “Tiara, lihat aku dulu. Tarik napas. Kamu tidak harus panik.” Tiara mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Aku takut, Mas. Aku takut salah lihat. Aku takut kejadian ini bikin aku mikir aneh-aneh.” Abimana menautkan jemari mereka dan menundukkan kepala agar mata mereka sejajar. Tatapannya lembut, kalem, dan penuh kendali. “Kalau salah, kita periksa lagi. Kalau benar, kita hadapi bersama. Kamu tidak akan melalui apa pun seorang diri.” Tiara menatap test pack itu lagi dengan napas yang mulai tidak teratur. “Mas, jantung aku kayak dipukul-pukul dari dalam. Tangan aku dingin semua. Aku takut kalau aku salah lihat. Tapi aku juga takut kalau aku benar lihat.” Abi

