Jari Biantara bergerak sangat cepat di atas papan ketik laptopnya. Suara ketukan tombol itu menjadi satu-satunya sumber suara di dalam kabin jet pribadi yang sedang melintasi langit malam. Layar monitor memantulkan cahaya hijau dan biru yang terus berganti ke wajah Biantara. Sorot matanya sangat tajam. Dia tidak berkedip sedikit pun saat deretan kode keamanan dari sistem pengawas lalu lintas pelabuhan Jakarta bermunculan di layarnya. Aruna bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju area dapur kecil di sudut kabin. Dia membuat secangkir kopi hitam pekat tanpa gula. Aruna tahu Biantara sangat membutuhkan kafein untuk menjaga otaknya tetap bekerja maksimal. Dia berjalan kembali dan meletakkan cangkir kopi itu tepat di samping kanan laptop Biantara. "Minum dulu kopinya," uc

