Tiara meletakkan ponselnya, berusaha mengembalikan keceriaan yang sempat terenggut. Ia kembali menyendok parfaitnya. "Trixie," jawab Tiara santai. "Dia mengajakku makan siang bareng. Ada Naya dan Clarisa juga." Saat Tiara menyebut nama Clarisa, wajah Abimana langsung berubah. Keseriusan yang biasanya hanya muncul saat membahas bisnis gelap kini terpancar jelas. Garis rahangnya mengeras. "Untuk apa mereka mengajak kamu bertemu?" tanya Abimana, nadanya kini dingin, tidak lagi lembut seperti saat sarapan tadi. "Bukankah kalian tidak akrab. Apa belum cukup saya memberikan pelajaran pada mereka di acara reuni waktu itu?" Tiara mengangkat bahu, berpura-pura tidak peduli. Ia menyadari perubahan suasana hati Abimana, tapi ia tidak ingin membesar-besarkan masalah. "Aku juga heran," kata Tiara,

