Abimana terdiam sejenak. Ia tidak langsung menghindar atau menutupi noda itu. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia justru menarik napas panjang dan menyandarkan punggungnya pada jok kulit mobil, membiarkan jasnya tetap terbuka lebar. Ia menatap lurus ke depan, ke arah lampu merah yang masih menyala, seolah sedang menyusun kembali kepingan kejadian di lobi kantor tadi pagi dalam otaknya yang jenius. Ia tahu persis. Bagi wanita mana pun, noda merah di d**a kiri—tepat di atas jantung—adalah sebuah deklarasi perang. Dan bagi Tiara yang biasanya santai, ini adalah pemicu ledakan yang tak terelakkan. "Mas! Aku tanya, ini lipstik siapa?!" suara Tiara meninggi, memecah kesunyian kabin mobil. "Merah begini... dan ini bukan warna yang biasa aku pakai. Kamu habis ngapain di kantor, Mas?" Abiman

